-->

Meraih Kemenangan Hakiki Bersama Islam Kaaffah


Oleh: Hamnah B. Lin

Ketika Ramadhan sudah dipenghujungnya, ketakutan kehilangannya terus memuncah. Bulan mulia yang Allah banyak berikan keutamaan di dalamnya, tak mampu diraih seutuhnya karena manusia enggan mematuhiNYA.

Ujung Ramadhan yang diharapkan adalah lahirnya pribadi-pribadi bertakwa. Pribadi-pribadi muslim yang siap tunduk patuh pada seluruh aturan Rabb-nya karena takut akan hisab-Nya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya adalah bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan.”

Takwa yang diinginkan tentu bukan dimulut saja. Melainkan perubahan nyata yang berpengaruh bukan hanya pada kehidupan personal, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Alhasil ibadah Ramadan semestinya melahirkan individu bertakwa sekaligus masyarakat yang juga bertakwa.

Namun, jika melihat fakta kondisi umat Islam hari ini, nyatanya belum beranjak dari sebelumnya. Ramadan ke Ramadan belum bisa mengubah apa-apa. Maksiat tetap merajalela, bahkan rasanya kian parah saja. Negara yang masih menjalankan sistem sekuler kapitalisme, akan terus mengalami kerusakan dalam segala lini urusannya. 

Negara pun alih-alih menyejahterakan, berbagai sumber daya alam yang hakikatnya merupakan milik rakyat malah digadaikan, bahkan dijual kepada para pemilik modal, baik asing maupun lokal. Di tengah kondisi itu, para pencuri uang negara pun bebas merajalela. Hukum yang lemah berkelindan dengan mental penguasa yang juga lemah. Tidak heran jika megaskandal korupsi berulang terjadi, tetapi kasusnya dipastikan selalu menguap tidak pasti.

Dampak yang paling nyata, keuangan negara terus dalam kondisi memprihatinkan dan negara tenggelam dalam utang riba berkepanjangan. Rakyat pun terkena imbasnya. Negara tidak punya modal menyejahterakan mereka, bahkan menjadikan rakyatnya sebagai tumbal pembangunan.

Suara rakyat pun terus diredam. Caranya, mereka yang bodoh diiming-imingi dengan berbagai bantuan. Sementara itu, mereka yang kritis pelan-pelan disingkirkan. Sistem pendidikan dan media massa pun menjadi perangkat penting untuk mengukuhkan hegemoni kapitalisme global. Caranya, fokus menciptakan mesin pekerja yang berorientasi uang dan tumpul dari visi kebangkitan.

Dalam keseharian, umat Islam dipaksa menerapkan hukum-hukum kufur yang bertentangan dengan agamanya. Bahkan tidak jarang ajaran Islam dijadikan bulan-bulanan, dituding biang teror dan perpecahan hingga para pendakwahnya pun dicap radikal yang layak dikriminalkan serta dikucilkan.

Ironisnya, semua ini terjadi di hadapan para penguasa muslim yang memilih pura-pura tuli buta. Mereka diam seribu bahasa, padahal mereka punya segala sumber daya, termasuk kekuatan militer yang bisa menolong muslim tertindas di berbagai belahan dunia termasuk rakyatnya sendiri dari penjajahan dinegerinya. 

Lalu, jika Idulfitri adalah hari kemenangan, menang dari apa? Kapan kemenangan itu tiba?

Islam telah jelas merangkai bahwa kemenangan hakiki dapat diraih tatkala aturan Islam bisa diterapkan oleh negara dalam bingkai khillafah, sebuah sistem pemerintahan Islam yang menjadi kebutuhan bagi seluruh manusia.

Allah SWT berfirman: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik tidak suka.” (QS Ash-Shaf [61]: 9)

Juga dalam firmanNYA, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS An-Nasr: 1—2)

Tanpa Khilafah, umat hidup tanpa aturan yang benar. Mereka pun selalu kalah dalam persaingan politik internasional. Bahkan posisinya terus menjadi bulan-bulanan. Bangsanya diperbudak dan kekayaan negeri-negerinya diperebutkan sebagai objek jajahan. Oleh karenanya, terwujudnya kembali Khilafah sudah menjadi tuntutan zaman. Yakni agar umat bisa kembali meraih kemenangan hakiki yang sejatinya menjadi tujuan Ramadan dan Idulfitri.

Maka dibutuhkan adanya dakwah mengajak manusia menuju penerapan aturan Islam ini, dakwah sebagai wujud kasih sayang dunia akhirat kepada saudara, sebuah kewajiban mulia. Dakwah pemikiran sebagaimana yang Rasulullah saw. contohkan, hingga mampu merubah pemiikiran dan sikap manusia dari menghamba kepada selain Allah menuju semata menyembah hanya kepada Allah, dari menjadikan hukum- hukum buatan manusia sebagai aturan hidup, menuju penerapan aturan Allah semata dan total.

Inilah hakikat kemenangan yang menjadi cita- cita kita bersama. Mari terus berdakwah menyampaikan kepada umat akan kepentingan kita di bulan Ramadhan ini, untuk bisa menerapkan seluruh isi Alqur'an dalam naungan khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam.