Ramadhan Bulan Perjuangan Untuk Meraih Takwa
Oleh: Hamnah B. Lin
Puasa bukan melemahkan fisik, puasa melemahkan hawa nafsu liar manusia yang cenderung ingin maksiat dan bebas dari segala aturan. Namun karena kita muslim, sebagai konsekuensinya maka butuh perjuangan menaklukkan hawa nafsu liar ini menuju ketaaan sempurna kepada Sang Pencipta Allah SWT.
Takwa tidak dapat dipisahkan dari iman karena takwa merupakan buah dari adanya iman yang mendalam kepada Allah Taala. Para sahabat yang mulia, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, sering menyatakan bahwa takwa adalah takut kepada Zat Yang Maha Agung, mengamalkan Al-Qur’an, dan menyiapkan diri menyambut datangnya hari yang kekal (akhirat).
Oleh karenanya, menjadi keharusan bagi keluarga muslim untuk mengukir ketakwaan dan kemenangan hakiki dengan mewujudkan rumah tangga ideologis, yakni rumah tangga yang layak dijadikan teladan dan sumber inspirasi umat. Anggota keluarganya adalah para pengemban dakwah yang bertakwa, penjaga Islam tepercaya. Suami mampu (kafa’ah) menjadi imam, teladan bagi keluarga dan umat. Ia akan membawa keluarganya sampai kepada-Nya dengan selamat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Tidak hanya itu, ketakwaan hakiki harus total dan tidak hanya menyangkut urusan personal. Akan tetapi, juga menyangkut ketakwaan masyarakat dan negara. Oleh karenanya, keluarga muslim bertanggung jawab mewujudkannya.
Maka menjadi tanggungjawab seluruh keluarga muslim untuk bersama mewujudkan perjuangan demi tegaknya aturan Islam oleh negara yang bernama khilafah Islamiyah. Maka, ada langkah langkah nyata yang harus diperjuangkan keluarga muslim semata ingin meraih Ridha Allah SWT. Langkah nyata yang bisa kita lakukan bersama keluarga diantaranya:
Pertama, menanamkan keimanan yang kukuh. Ketakwaan merupakan buah dari keimanan yang mendalam kepada Allah Taala. Sebagaimana yang telah dipahami, ketakwaan lahir dari keimanan yang kukuh, merasa takut terhadap murka dan azab-Nya, serta selalu berharap atas limpahan karunia dan magfirah-Nya. Orang yang berkeimanan kukuh akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengisi setiap waktu dalam hidupnya dengan kebaikan.
Kedua, senantiasa memelihara suasana dan semangat Ramadan dalam keseharian. Para orang tua harus dapat menjaga berlanjutnya suasana dan semangat Ramadan agar rahmat Allah Swt. tidak terputus bagi keluarganya. Upayakan agar selalu kompak dengan anak-anak untuk menjalankan tilawah Al-Qur’an, salat Tahajud, salat berjemaah, memakmurkan masjid, serta saum sunah bersama. Caranya dengan membuat jadwal bersama, lalu disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Kesungguhan dan upaya optimal setiap anggota keluarga, terutama orang tua, akan membuahkan hasil yang manis. Suasana harmonis yang dilandasi militansi anggota keluarga akan mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah yang menjadi kekuatan rumah tangga ideologis.
Ketiga, senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas keilmuan. Nilai-nilai ketakwaan tidak dapat tertanam dan buahnya tidak dapat dipetik, kecuali jika seorang muslim memiliki pengetahuan tentang agama Allah yang menuntut dirinya mencapai darajat muttaqin (orang yang bertakwa). Mengapa demikian? Ini karena tanpa ilmu, orang tidak akan tahu hal yang wajib dikerjakan dan hal yang harus ditinggalkan. Hal ini ditegaskan Allah Swt. dalam firman-Nya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu.” (QS Fathir: 28). Itulah sebabnya, menuntut ilmu merupakan ibadah utama, jalan yang menghubungkan ke surga, dan menjadi tanda bahwa seseorang berkeinginan baik.
Keempat, senantiasa meningkatkan jalinan ukhuah islamiah. Seorang muslim yang beriman akan selalu mencintai saudaranya. Rasulullah saw. bersabda, “Kalian tidak masuk surga sebelum kalian beriman dan tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai.” (HR Muslim). Keluarga muslim ideologis tidak hanya mencintai saudara sekandungnya, tetapi juga saudara seimannya sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya dahulu. Jalinan ukhuah islamiah yang kukuh akan menjadi kekuatan besar dalam perjuangan Islam (lihat QS Ali ‘Imran: 103).
Oleh karenanya, setelah bersilaturahmi pada Idulfitri, keluarga muslim harus memelihara jalinan ukhuah islamiah sebaik mungkin sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Beliau saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia mengatakan cinta kepadanya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Sabda Rasullullah saw. lainnya, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apa pun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR Muslim).
Kelima, senantiasa berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Keluarga muslim adalah keluarga yang peduli dengan lingkungannya. Kesalehan yang ada pada rumah tangganya akan memancar di tengah lingkungannya. Seorang istri akan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat sesuai rambu-rambu Islam, yakni melakukan amar makruf nahi mungkar, menjalin ukhuah dengan tetangga, memiliki prioritas dan tujuan yang jelas sesuai tuntunan syariat, dan sebagainya.
Keenam, selalu menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan. Ketakwaan hakiki tidak hanya terwujud dalam skala personal. Akan tetapi, harus juga terwujud dalam ketakwaan masyarakat dan negara. Selain itu, ketakwaan individu atau personal tidak akan sempurna tanpa ditopang oleh ketakwaan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya keras kaum muslim untuk mewujudkan dan memperjuangkan semua ini.
Bulan Ramadhan bulan perjuangan, berjuang meraih takwa yang sesungguhnya dengan mengajak seluruh lini masyarakat, dengan cita - cita mulia yakni segera tegaknya syariat Islam secara kaaffah dalam naungan khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam.
Posting Komentar