Meniti Jalan Taqwa Hakiki Pasca Ramadhan
Oleh : Zulfa Syamsul, ST (Aktivis Muslimah)
Ramadhan telah usai, tiga puluh hari umat Islam digembleng menahan lapar, haus dan menahan hawa nafsunya. Selama itu pula umat Islam digalakkan untuk memperbanyak ibadah sunnah dan memperbaiki kualitas ibadah wajibnya. Tujuannya semata agar setiap muslim menjadi pribadi yang bertaqwa sebagaimana frasa kalimat La'allakum Tattaquun dalam surat Albaqarah ayat 183.
Secara sederhana defenisi Taqwa merujuk pada kondisi seseorang yang ridho menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. Salah satu ciri orang yang bertaqwa yang disebutkan oleh Alqur’an adalah sami’na wa atho’na.
"Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) diantara mereka hanyalah “Kami mendengar dan kami taat. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (TQS.An Nur:51)
Dalam tafsir Tahlili dijelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tentang orang-orang yang benar-benar beriman apabila diajak bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka tunduk dan patuh menerima putusan, baik putusan itu menguntungkan atau merugikan mereka. Mereka yakin dengan sepenuh hati tidak merasa ragu sedikit pun bahwa putusan itulah yang benar, karena putusan itu adalah putusan Allah dan Rasul-Nya. Tentu putusan siapa lagi yang patut diterima dan dipercayai kebenaran dan keadilannya selain putusan Allah dan Rasul-Nya? Demikianlah sifat-sifat orang-orang beriman benar-benar percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan yakin sepenuhnya bahwa Allah yang Maha Benar dan Maha Adil.
Namun adakah sikap seperti ini pada umat islam yang sedang hidup di tengah sistem sekulerisme? Tampaknya sangat sulit, lantaran sekulerisme yang memisahkan agama dari Negara telah menggantikan alquran dengan aturan buatan manusia. Maka bisa dikatakan bahwa ketaqwaan hakiki umat Islam saat ini terhalang oleh sistem sekulerisme dan inilah yang menjadi perjuangan utama Umat Islam ke depan.
Umat Islam Gelap Tanpa Alquran
Tagar #Indonesiagelap mengemuka dan jadi trend secara nasional. Aktivis mahasiswa pun ramai melakukan aksi dengan tagar tersebut beserta dengan 13 tuntutannya, meski tuntutan tersebut belum terpenuhi kini aktivis mahasiswa disibukkan lagi dengan tuntutan penolakan UU TNI yang baru disahkan. Aksi yang dilalui mahasiswa ini penuh perjuangan lantaran petugas menghadapi mereka dengan represif. Di tengah sengkarut ini, perlambatan ekonomi juga tengah terjadi. IHSG turun drastis sebagai efek banyaknya pemain saham yang menarik modalnya. Jika kondisi ini tak terbendung, Ekonomi Indonesia disinyalir akan mengalami krisis ekonomi seperti tahun 98 lalu.
Sementara itu penegak hukum juga masih disibukkan oleh pelaku kriminalitas yang semakin dahsyat. Sebutlah oknum Kapolres Ngada yang menjadi pelaku pelecehan anak di bawah umur, yang juga merekam dan menyebarkan aksinya. Sementara itu kasus korupsi juga semakin besar, sebut saja korupsi pertamina 968,5 T atau hampir 1000 T. Kesemuanya adalah sebagian gambaran betapa Indonesia gelap di tengah penerapan sekulerisme-kapitalisme-demokrasi.
Kondisi umat Islam di Palestina juga tak kalah menyedihkan. Menjelang akhir Ramadhan, Zioni5 I5r4el membabi buta kembali menyerang warga Gaza padahal perjanjian gencatan senjata masih berlaku. Ratusan korban yang syahid dalam kondisi jasad terhambur menjadi bukti kedzoliman Zioni5 i5r4el namun dunia Islam masih tak peduli, saling terpecah. Perpecahan dunia Islam ini semakin mengemuka saat penentuan 1 Syawal. Nasionalisme yang mengakar pada negeri Islam telah mencabik-cabik persatuan di antara mereka.
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para Rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka dibebaskan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (TQS.Al-A’raf:96)
Butuh Dakwah Manhaj Rasulullah
Kondisi gelap yang meliputi umat Islam ini sejatinya hanya bisa dibebaskan dengan menerapkan Alquran secara Kaffah. Sebagaimana firman Allah SWT:
Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) untuk mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha penyantun lagi maha penyayang kepadamu.” (TQS.Al-Hadid:09)
Hanya saja perjuangan mewujudkan Al-Quran sebagai UU konstitusi Negara layaknya perjuangan para Nabi. Setidaknya ada tiga fase yang dilalui Nabi Muhammad SAW sewaktu mengubah masyarakat Jahiliyah Makkah ke Cahaya Islam. Pertama, fase pendidikan (Tatsqif) yang menjadi masa Rasulullah SAW menempa para Sahabat dan kaumnya terkait Islam. Kedua, Fase Interaksi (Tafa’ul) atau masa Rasulullah menginteraksikan ide-ide Islam serta mengajak kaumnya kepada Islam. Dan terakhir adalah Fase Pengambil alihan Kekuasaan atau masa Rasulullah bernegosiasi dengan pemimpin-pemimpin Kabilah untuk memberikan perlindungan hingga mereka bersedia menyerahkan otoritas yang mereka ampu kepada Islam. Alquran pun tegak secara menyeluruh atas konstitusi dengan otoritas tersebut.
Jalan perjuangan ini penuh onak dan duri, jalan yang sepi lantaran pelakunya menghadapi aral rintangan yang disediakan oleh para musuh dakwah. Karena itu perjuangan ini memerlukan profil layaknya seminimal menyerupai ketangguhan para shahabat Nabi, seperti memiliki keyakinan yang kuat kepada Janji Allah dan Rasul-Nya, pengorbanan yang besar untuk Islam, Mendahulukan kepentingan Allah dan Rasul-Nya serta Maksimal dalam beribadah.
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik." (TQS. An-Nur:55)
Sungguh ketakwaan yang ideal pasca Ramadhan hanya bisa diraih dengan ikut memperjuangkan penerapan Al-quran secara Kaffah. Dan itu hanya bisa dilakukan secara terorganisir dan istiqomah dalam sebuah jamaah dakwah yang mengikuti manhaj Nabi.
Wallahu ‘alam.
Posting Komentar